Rumah saya terletak sangat berhampiran dengan rumah nenda saya.
Nenda saya tinggal berseorangan dirumah.
Kegemaran nenda saya ketika waktu lapang adalah melihat orang lalu lalang dijalan raya dari jendala rumahnya.
Saya masih teringat bayang-bayang dan mata nenda saya dari luar rumah.
Itu semua ketika nenda saya masih sihat.
Pada suatu hari nenda saya jatuh sakit.
Nenda saya tidak mampu berjalan dan hanya baring saja di katil.
Nenda saya sudah menjadi seperti orang lain.
Jika saya pulang dari asrama saya pasti akan tidur di rumah nenda bersama ibu atau ayah.
Tapi satu malam itu, adalah malam terakhir nenda bersama kami.
Pada keesokan harinya,
Setelah pulang ke rumah saya kerumah nenda lagi bersama ibu.
Terdetik di hati saya merasai kelainan di tengahari itu.
Tiba-tiba saya terdengar nenda terbatuk-batuk.
Mak saudara saya menyuapkan air supaya nenda minum dan mengurut dadanya.
Saya melihat jam.
Pukul 11 pagi.
Kemudian kami tinggalkan nenda diruang depan sebentar dan masuk ke bilik.
Hati saya rasa resah.
Rasa seperti berlaku sesuatu pada nenda.
Saya mahu melihat tapi saya rasa takut.
Saya melihat jam lagi.
Pukul 11.30 pagi.
Dan, akhirnya saya buat keputusan untuk melihat nenda di ruang depan.
Mata nenda seperti celik tapi gaya nenda seperti tidur.
Saya panggil ibu.
Mak saudara saya datang dan mengatakan nenda sedang tidur.
Biarkan.
Tapi hati saya mengatakan sebaliknya.
Tapi saya takut hendak mengatakan.
Ini soal hidup dan mati seseorang dan ini pertama kali saya hadapi situasi seperti ini.
Saya melihat jam lagi.
Pukul 12.30 tengahari.
Akhirnya kami buat keputusan untuk pulang ke rumah dan membiarkan nenda tidur.
Jam 2 petang.
Ayah baru pulang dari kerja.
Tiba-tiba pembantu nenda saya menjerit-jerit memanggil ayah.
Ayah dan ibu ke rumah nenda
Saya ternanti nanti akan kepastian
Tidak lama itu, ibu kembali kerumah dan memberikan saya jawapan
Setelah saya mendengar jawapan itu.
Saya duduk mengenang apa yang saya rasa pagi tadi dan cuba mengimbas kembali apa yang terjadi
Ia memang betul nenda sudah kembali kepada PenciptaNya
Sepanjang saya berada jauh
Saya selalu mengatakan di dalam hati
Andai nanti nenda akan pergi
Biarlah ketika itu saya berada disisi
Benarkan saya membaca Al-Quran buat nenda disisinya
Ia, saya berpeluang berada disisi nenda
Saya berpeluang menyiapkan nenda sebelum dimandikan untuk yang kali terakhir
Saya berpeluang untuk membaca Al-Quran disisinya.
Sekian,
Dari cucu yang dari kecil sehingga dewasa dihadapan nenda.